Komentar Dulu Sebelum Dikomentari

Gwe suka menjadi penggerutu. Dalam artian mengkritisi setiap hal yang ada di sekitar gwe. Kritis itu membuat gwe kepo, lalu mencari tahu. Kalau udah tahu, akhirnya gwe paham. Setelah gwe paham, gwe jadi bisa lebih berhati hati dalam menghakimi. Tapi belakangan gwe percaya bahwa menahan diri untuk tidak mengomentari segala hal adalah kemewahan tersendiri dalam hidup.

Menurut gwe, di era ke ‘bedebah’ an media sosial ini, semua orang berlomba lomba untuk berkomentar dan menjadi expert, tapi hanya seper sekian dari golongan kaum “expert” tersebut yang mau memahami masalah. Pertanyaannya : ” Apa sih sebenarnya yang kita cari dari berkomentar?” Apakah sekadar menunjukkan kalau kita tahu akan sesuatu, peduli akan sesuatu, atau sekadar hanya untuk eksistensi aja?

Biasain mikir sebelum komentar! Biasain baca sebelum mencemooh.
Kemampuan terbaik dari pemalas yang enggan membaca adalah mengomentari apa saja tanpa adanya pemahaman. Inget, jangan suka jadi bodoh. Walaupun bodoh dan goblok adalah suatu hak dari setiap bangsa!! Menurut gwe orang model begini cuma perlu ‘asal bisa bersuara’. Masalah paham atau tidak, itu urusan belakangan. Tips gwe kalau ketemu orang kaya gini : Sudah jangan diambil pusing, jangan kebawa emosi. Orang model begituan cuma mengeluarkan isi kepalanya kok. Mereka gak punya kewajiban untuk jadi pinter. (hehe)

Satu level yang lebih jahat dari berkomentar itu menurut gwe lagi adalah ng-judge orang. Kadang-kadang kita dengan mudah nge-judge, meski hanya di dalam hati. Tentu saja, melakukan judgement di dalam hati adalah tempat teraman supaya citra diri kita tidak dikenal sebagai seorang yang ‘BACOT’ karena apapun yang terjadi seperti harus kita komentari.

Dih, kenapa sih kita gampang banget nge-judge hidup orang lain? Sibuk nge-judge orang, kaya idup sendiri udah beres aja. Padahal sesuatu yang kita hakimi, hanya kita nilai dari sekelumit kehidupannya yang panjang. Bahkan, kita bisa dengan mudah melakukan judgement pada orang yang benar-benar tidak kenal. Pantas ga sih?

Judgement ini memang tidak butuh waktu lama dengan pengamatan yang intens semacam bikin skripsi jaman kuliah. Cukup dengan satu lirikan saja, Set… langsung tuh biasanya kita bisa dengan gampangnya menilai dari A sampai Z tentang kehidupan seseorang.

Ini tuh ga cuma terjadi pada kehidupan ‘yang nyata’ saja. Namun, dalam kehidupan di dunia maya, perilaku ini tanpa sadar kita lakukan. Di medsos malahan, kita punya kesempatan lebih untuk tidak sekedar membatin dalam hati. Tinggal bikin fake account, puas deh komentar apapun tentang kehidupan seseorang tanpa perlu ketemu langsung…

Makanya ga heran, kalau kekuatan jempol para netijen di kolom komentar instagram itu sanggup mengguncang dunia si pemilik akun instagram beserta isinya.

Kaya baru baru ini ada penyanyi grup band yang baru kena musibah, dan isitrinya ikut jadi korban meninggal dalam musibah itu, Terus dia ungkapkan rasa dukanya dengan posting foto istrinya, Demikian ilustrasi respon netijen di beberapa negara menanggapi postingan si penyanyi :

Orang Amrik: My deepest condolences.

Orang Australia: I’m so sorry.

Orang Inggris: Please let me know if there is anything I can do to help.

Netijen Indonesia: Foto2nya tlg dihapus krn memperlihatkan aurat,dosa, kasian suaminya. maaf sekadar mengingatkan

Lha, siapa luuuu? Kaya pernah magang di akherat aja, tau mana yang layak masuk surga, mana yang pantes untuk di celup celup di neraka..? Lagian ngurusin orang, belum tentu orangnya beneran mau kurus….. 

Hadehhhhh, yang kaya gini ni bikin hati lelah. seperti lelah mengejar gebetan yang bahkan ngeliat Instastory kita aja ga pernah (eh)..Soalnya, kita memilih untuk ikut campur dalam urusan orang lain yang sebetulnya nggak ada urusannya sama kita. Lagian, siapa sih yang nggak ngerasa capek, kalau diri kita dipenuhi banyak emosi negatif karena gampang nge-judge kehidupan orang?

Gini deh, tips dari aku, kalau kamu merasa nge-judge adalah passion-mu dan kamu tak bisa hidup tanpanya. Yaudah, jadi dukun aja, bep!! Biar judgement-nya lebih berfaedah. ye gak sih….

Tuh kan …
Gwe ketularan ikutan ngejudge orang yg lagi ngejudge gwe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: