Rutinitas Membunuh Makna ?

Alarm berdering jam setengah 5 pagi, bangun dan langsung membersihkan diri, tak lupa setelahnya bersujud kepada Ilahi, sholat shubuh sambil berdoa agar diberikan kemudahan dan kelancaran segala aktivitas hari itu.

Jam enam kurang sedikit, selalu terburu buru berboncengan di sepeda motor sampai stasiun. Sesampainya di stasiun, mengejar kereta menuju Jakarta, pagi pagi sekali supaya bisa absen di kantor tepat waktu. Berebut tempat di dalam gerbong kereta bersama ratusan (atau bahkan ribuan?) penumpang lainnya, bukan untuk duduk, melainkan berdiri. Kerap melewatkan sarapan dan kesempatan untuk saling bertukar ucapan “Selamat Pagi” dengan anak tercinta.

Sesampainya di kantor, bekerja dengan durasi normal.

Tak hanya fokus pada pekerjaan dan tenggat waktu pekerjaan yang hampir semuanya ada alert “HARUS SELESAI SEKARANG”, namun juga harus menyiapkan waktu dan tenaga untuk ramah sana sini, pasang “fake smile” dan “haha hehe” sesering mungkin supaya dibantu dan tidak dipersulit, bermuka tembok dan berhati batu biar nggak ikut ikutan drama perkantoran, melengos menghindari rekan kerja yang menjengkelkan, dan sesekali menyelamatkan muka di depan atasan. Segala bentuk social engineering.

Sampai sampai ‘we have to lower our standards just to make ourself fit with everyone!’

Sore hari kadang sesudah maghrib, kembali pulang dengan kereta sampai akhirnya tiba di rumah di atas pukul 8 malam. Itu pun kalau kondisi keretanya dalam keadaan aman lancar tanpa ada gangguan. Terus begitu, berulang di keesokan harinya.

Itu kerja, Apa di kerjain..?

Rutinitas. Nyebelin. Tapi bikin addict.

Bahkan kalau libur kelamaan, sometimes I miss those routines.

Diam diam sambil mikir, apa yang sudah bikin sakaw sampai membuat kita selalu ingin kembali terjebak dalam rutinitas ini?

Ketika kamu mencintai rutinitasmu, alarm akan tetap berbunyi. Kewajiban dan kemacetan juga masih menanti. Tapi paling tidak,  sudah tidak perlu membuang energi untuk mengeluh lagi.

Setiap hal dapat dimaknai. Rutinitas pun dapat dimaknai. Ketika rutinitas dilakukan dengan kesungguhan hati, dengan prinsip “mengerjakan lebih baik” dari sebelumnya, maka makna tak akan hilang barang sedikitpun.

Selalu ada cara untuk menikmati rutinitas yang dirasa bermakna.

Scipreneur-Success-678x381

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: