Painful Goodbye

 

Tadi pagi Ibu telpon aku,

Ibu cerita panjang lebar, kangen sama Ayah katanya,

Sudah hampir 34 tahun menikah, tidak pernah Ayah dan Ibu sekalipun berpisah jauh, Sampai suatu hari di Bulan Agustus ini, Ayah ku meninggal, mendadak tanpa ada firasat sebelumnya. Di saat terakhirnya, Ayah cuma minta ditemenin ke kamar kecil sama Ibu, lalu di dalam kamar kecil, Ayah bilang ke Ibu, “Bu, sepertinya aku duluan ni ninggalin Ibu” Setelah itu Ayah mengungkapkan bahwa Ayah sayang Ibu, lalu meninggal dalam pelukan Ibuku. Itu saja. Singkat, tapi kepedihannya belum hilang sampai saat ini.

Di telpon ibuku lanjut bercerita,

” Biasanya Ibu cerita apa apa sama Ayah. Kalau Ibu susah ceritanya sama Ayah. Ibu senang ceritanya sama Ayah, Ibu ceritain anak anak Ibu sama Ayah,Ceritain temen temen Ibu sama Ayah, Semua yang Ibu lakuin, yang Ibu rasain, semua nya Ayah tau. Ayah kok cepet banget ninggalin Ibu sih, Put, Ibu masih ga percaya. Mikirnya Ayah lagi kerja atau pergi mancing aja seperti kebiasaannya saat masih hidup, Ibu masih percaya itu, Ayah lagi kerja. Tapi kalau liat foto foto Ayah, video video Ayah di handphone Ibu, baru Ibu sadar kalo Ayah sudah ga akan kembali lagi”

Aku cuma bisa bilang “Sabar, bu…”

Aku, si anak pertama yang harus berpura pura tegar dan tabah di hadapan Ibu nya. Pura pura kuat, Padahal sampai sekarang aku masih harus belajar menerima dan memahami bahwa ketentuan Allah yang telah memanggil Ayahku kembali kepada Nya secara mendadak itu adalah takdir yang paling terbaik menurut ketetapan Nya.

Aku kehilangan, Ibu kehilangan, Kami mengalami kehilangan besar. Kadang di kala aku sedang menguatkan Ibu, aku merasa bahwa aku juga sedang menguatkan hati ku.

Pernah suatu pagi, aku terbangun dalam keadaan hilang arah karena ingat Ayah. Aku gatau mau ngapain, Aku gatau mau kemana, Aku gatau mau makan apa pagi itu, Bahkan aku gatau mau pake baju apa hari itu. Hanya merasa hampa…

Kembali lagi, Ibu masih bercerita di telpon

“Pantesan ya put, beberapa saat lalu, Ayah pernah ngajarin Ibu nyalain TV, nyalain tape dan ngajarin Ibu benerin alat alat lain, ngomongnya gini “Harus bisa bu nyalain sendiri, ntar kalo Ayah ga ada, ibu biar bisa nyalain semuanya sendiri”

Aku Auto Nangis

Langsung tersentak dan tersadar, bahwa mulai sekarang kami harus terbiasa melakukan semuanya sendiri tanpa Ayah. Gak ada lagi Ayah yang benerin antena tv, ga ada lagi Ayah yang bantuin ngeluarin kendaraan dari garasi kalo mau dipakai, Ga ada lagi Ayah yang bantuin benerin speaker yang error, Ga ada lagi Ayah yang ngutak ngatik mesin cuci saat aku komplain mesin cucinya berisik. Ga ada lagi Ayah yang bersih bersih rumah dan Got depan saat libur.

Ayah gak ada lagi.

Yes It’s hurt. The most painful goodbyes are the ones that are never said and never explained.

Miss you, Ayah. Kehilanganmu tak pernah mudah bagiku.

-❤️ P-

WhatsApp Image 2018-09-11 at 10.48.52

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: