Untukmu agamamu, Untukku Agamaku

150515090007_genggaman-tangan-bisa-dijadikan-alat-prediksiAku dari keluarga yang multi agamis.

Keluarga inti ku, ayah, ibu, adik, semuanya Alhamdulillah muslim.

Beberapa tante dan om ku, ada yang katolik, ada yang protestan.

Kami semua bisa dibilang adalah seorang ummat yang taat, yang muslim selalu ke masjid, yang lain saat hari Minggu tiba juga tak pernah absen ke gereja.

Wajar dan terserah saja  jika ada yang mencibir kehidupan berkeluarga kami ini aneh lah, kurang religius lah, tidak memahami agama secara benar lah, kurang ngikutin kajian agama lah…

Yang pasti kalau ada pertanyaan apa kabar keadaan kami saat arisan keluarga, saat lebaran dan saat natalan? Jawabannya adalah biasa biasa saja…

Semua itu tidak menjadi biasa biasa lagi saat Eyang Putri-ku, seorang Katolik yang taat, yang setiap pagi berdoa novena, yang tak pernah absen ke gereja setiap minggu nya, yang waktu kecil aku selalu mengantarnya ke perkumpulan janda janda Katolik dengan sebutan Santa Monica untuk sekedar membaca Alkitab bersama, yang selalu membawa rosario kemanapun dirinya bepergian dan sibuk berkomat kamit membaca doa bapa kami saat dalam perjalanan, Tiba Tiba meninggal dalam keadaan menjadi seorang Muslim.

Memang Allah lah Maha Pembolak Balik hati manusia, Namun, keadaan tak pernah bisa menjadi biasa biasa lagi dalam menghadapi perbedaan keyakinan ini di dalam keluarga besarku.

Keluargaku yang Muslim bersuka cita dan bergembira karena Eyangku bisa menjadi Muslim di akhir hayatnya. Di lain sisi, keluarga ku yang Katolik sampai saat ini masih belum percaya dan masih Denial akan keputusan almarhumah Eyang Putri ku tersayang itu.

Kerukunan antar kami, tak akan pernah bisa sama lagi..

Tadi pagi aku yang sedang cuti dari kantor ini, tidak sengaja mendengar ceramah dari seorang ustadzah di televisi.

ada satu penelepon..

Perempuan..

Bilang ibunya meninggal umur 80 tahun. Ayahnya lebih tua satu tahun. Ayahnya dan dia Islam, Ibunya Kristen. Mereka sudah menikah sekitar 50 tahunan. Si anak tanya, apa doa yang terbaik yang bisa sampai ke Ibunya yang beda agama? Dan bagaimana supaya ayahnya tidak bersedih karena ditinggal mati Ibunya.

Tebak jawaban sang ustadzah..

Katanya : Ceraikan dahulu kedua orangtuamu. Haram hukumnya mendoakan orang kafir.

Anak perempuan yang menelpon tadi menangis dan bilang, mereka baik baik saja dan bahagia, Ustadzah..?

Sang ustadzah menjawab..

Doa itu tidak diterima oleh Allah. Jadi baiknya ceraikan dulu meski sudah meninggal. Nanti ayah kamu akan lebih bahagia. Si anak tadi nangis makin kenceng. Aku matiin tivi…

PUCAT..

Runtuh agamaku seketika…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: